Demang Damar dan Babat Alas Nongko Dhoyong

Membabat atau membuka hutan alas Nangka Dhoyong bukanlah pekerjaan yang mudah bagi Wanapawira. Berulang kali dilakukan, namun tetap saja gagal. Selain terdapat berbagai hewan buas yang cukup banyak, hutan tersebut juga dikenal gawat, angker atau wingit. Hutan tersebut dipercayai sebagai rumahnya para dhanyang atau lelembut yang merupakan Keraton Kajiman (keraton bangsa jin). Dikatakan sebagai tempat wingit (gawat) karena:

"sato moro sato mati, jalmo moro jalmo keplayu"

(hewan mendekat mati, manusia mendekat lari terbirit-birit ketakutan)

Hal ini dipercayai oleh masyarakat. Sehingga rakyat Piyaman yang dikerahkan membuka hutan selalu gagal, begitu pula dengan Demang Damar yang harus merasakan kegagalan berulang kali, hingga akhirnya membuatnya mengeluh dan meminta bantuan Mbok Nitipawira, yakni kakaknya yang dikenal sebagai orang sakti di Kademangan Piyaman, bahkan Kadipaten Gunungkidul waktu itu. Mereka berdua diyakini merupakan keturunan keluarga pelarian Majapahit.


Akhirnya, Mbok Nitipawira ikut andil dalam tugas Demang Wanapawira. Mbok Nitipawira memberikan saran kepada adiknya berupa wangsit yang diterimanya, bahwa sebelum membabat alas Nangka Dhoyong harus meminta ijin kepada penunggunya, yaitu Nyi Gadung Mlati. Permohonan ijin dilakukan dengan syarat melakukan ritual atau semedi atau nenepi di hutan tersebut selama tujuh hari tujuh malam. Atas saran sang kakak, berangkatlah Wanapawira ke Alas Nangka Dhoyong untuk semedi. Kemudian wangsit atau wisik yang diterimanya selama semedi, menyebutkan, bahwa Nyi Gadung Mlati mengijinkan hutan dibabat dengan syarat pohon (nangka) yang ditempatinya tidak ikut ditebang. Biarlah Ia (Nyi Gadung Mlati) menjadi penunggu pohon atau wilayah tersebut selama-lamanya. Siapa saja yang berani menebangnya, maka akan berhadapan dengannya. Menurut legenda, hal itu merupakan perintah Nyi Roro Kidul lewat abdi kinasihnya Nyai Nilamsari.


        Kemudian, dibantu Kademangan Beji, Kademangan Pampang, serta Kepanjen Semanu (desa-desa tua waktu itu) berhasilah pembukaan hutan tersebut. Bersamaan dengan itu, Pancadirja jatuh sakit (buta), sehingga tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai Bupati. Pancadirja lantas meminta Panji Harjodipuro untuk membantu menjalankan tugas-tugasnya. Setelah Pancadirja meninggal, sedianya Demang Wanapawira-lah yang berhasil membabat hutan, dan menjadi orang pertama di wilayah Nangka Dhoyong. Namun, dikisahkan ia tidak bersedia, karena Wanapawira mengakui dirinya tidak bisa baca tulis atau menjalankan tugas sebagai bupati. Lantas dirinya mempersilahkan kepada siapa saja yang bersedia memimpin Gunungkidul, kemudian ditunjuklah Prawirasetika menggantikan Pancadirja.


        Bersamaan itu, ditambahlah wilayah Gunungkidul. Tidak hanya dari Pati hingga Sumingkar, tetapi dari Tambakromo hingga Patuk. Sejak saat itu mulailah dibangun pendapa, bangsal-bangsal untuk para pangreh praja sebagai pertanda perpindahan pusat pemerintahan dari Pati (Genjahan Ponjong) ke Nangka Dhoyong. Karena sudah tidak lagi berupa hutan belantara yang angker, maka pada masa pemerintahan Prawirasetika dirubahlah nama alas Nangka Dhoyong menjadi Wonosari. Wonosari berasal dari kata wana (wono: alas) dan asri (indah). Nama Wono-asri kemudian berubah, untuk kemudahan dalam penyebutan menjadi Wonosari.


Komentar

Postingan Populer